Menengok Pusat Kota Masa Hindia Belanda
Dalam rangkaian kegiatan “Cinta Jakarta dengan Peta Hijau” yang berlangsung sejak 10 - 25 Oktober 2009, komunitas Peta Hijau Jakarta mengadakan jelajah pada tanggal 18 Oktober 2009. Tur ini kerjasama dengan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dalam rangka “Panca warsa dan Temu Pusaka 2009”. Jelajah pusaka ini berupa napak tilas jejak sejarah pusat kota Jakarta di masa Hindia Belanda, setelah berpindah dari Oud Batavia (Kota Tua) ke Weltevreden (Gambir dan sekitarnya) Jakarta Pusat. Rutenya adalah menelusuri Jalan Veteran I – Taman Silang Monas – Pasar Gambir– Galeri Nasional – Departemen Luar Negeri – Lapangan Banteng – Gedung Kesenian Jakarta – Passer Baroe .
Peserta jelajah yang kurang lebih 50 orang, dibagi dalam 3 kelompok yang berasal dari anggota BPPI (yang terdiri dari para sejarahwan, arsitek, arkeolog, perwakilan lembaga swadaya masyarakat), komunitas pelestarian pusaka Indonesia, mahasiswa, dan komunitas lainnya di Jakarta.
Jl. Veteran I dan Jl. Juanda
Jelajah dimulai pukul 08.00 dari ruas Jalan Veteran I. Peserta diajak mengenal beberapa ruangan dalam Newseum-Domus Jl. Veteran, tempat diskusi para pebisnis dari berbagai negara pada zaman Belanda. Kelompok 1 yang merupakan kelompok berbahasa Inggris, karena sebagian besar peserta berasal dari mancanegara, sangat tertarik pada gedung-gedung di ruas jalan ini. Jl. Veteran I dan Juanda dulu bernama Rijswijk dan Noordwijk, yalmo kawasan elit Batavia dengan kompleks pertokoan elit serta deretan rumah-rumah mewah bergaya Eropa. Kawasan ini mulai berkembang ketika Thomas Stamford Raffles tinggal di sana. Rumahnya kemudian menjadi hotel der Nederlanden pada 1840. Hotel utama lain yang sudah lebih dulu dibangun di Rijswijk adalah Grand Hotel Java (1834).
Taman Silang Monas
Setelah menjelajahi Jl. Veteran, rombongan menuju Taman Silang Monas. Taman silang Monas adalah lapangan terbesar di Jakarta yang dulu disebut Buffelsveld (lapangan kerbau) dibangun oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Pernah pula dijadikan lapangan militer oleh Daendels yang diberi nama Champs de Mars (1809). Tugu Monumen Nasional (Monas) yang menjadi ikon kota Jakarta, dibangun pada tanggal 17 Agustus 1961 oleh arsitek ternama Soedarsono, dan penasihat konstruksi F. Silaban dan Rooseno. Terdapat patung Diponegoro, R.A. Kartini, Chairil Anwar dan M. Husni Thamrin di sana. Berbagai jenis pohon dari penjuru nusantara ditanam mengelilingi taman; seperti maja, keben, gayam, dan kepel. Fasilitas taman terapi (refleksi), lapangan futsal, rusa tutul, dan atraksi air mancur menari yang diiringi 26 lagu tradisional. Terpantau 25 jenis burung liar seperti takur ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala) dan Sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus). Peserta diberi kesempatan untuk berfoto-foto sebentar, dengan latar belakang Monas.
Pasar Gambir
Ada dua versi asal mula nama “Gambir”, di antaranya ada yang mengatakan bahwa gambir adalah nama pohon yang dulunya banyak terdapat di area tersebut, karena kawasan ini dekat dengan kebon sirih. Ada pula yang berpendapat nama Gambir berasal dari nama Letnan Gambier yang ditugaskan oleh Daendels untuk membuka jalan meluaskan Batavia hingga ke selatan.
Lapangan Gambir ini dulu adalah tempat diadakannya pasar malam yang beken dikenal dengan Pasar Gambir pada 1906, diadakan khusus untuk memperingati ulang tahun Ratu Wilhelmina. Dulu terdapat berbagai restoran, mulai dari tempat minum bir, es krim, ruang dansa dan berbagai kerajinan dari Jawa maupun Eropa. Sejak tahun 1921, pasar Gambir berlangsung tiap tahun. Namun, sejak beberapa tahun lalu, keramaian ini dipindah ke Kemayoran dan berubah menjadi Pekan Raya Jakarta.
Galeri Nasional
Selepas ‘menikmati’ Gambir, peserta menyeberangi jembatan penyeberangan di depan stasiun Gambir menuju Galeri Nasional. Ketika melewati jembatan ini, peserta melihat bagaimana kurang terawatnya jembatan ini, penuh sampah dan aus termakan cuaca. Sementara, pejalan kaki lebih suka menyeberang begitu saja di jalan raya, tanpa memanfaatkan jembatan ini.
Gedung Galeri Nasional Indonesia yang terletak di Koningsplein Cost No. 14 (sekarang Jalan Medan Merdeka Timur No. 14. Jakarta Pusat) ini, didirikan pada tahun 1902 oleh Yayasan Kristen Carpenter Alting Stiching (CAS) yang bernaung di bawah Ordo van Vrijmetselaren, atas prakarsa Pendeta Albertus Samuel Carpentier. Kemudian, berdasarkan Surat Keputusan Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 126/F/1982, tanggal 28 Februari 1982, pengelolaannya diserahkan kepada Direktorat Jenderal Kebudayaan. Bangunan induk (Gedung A) tersebut kemudian hari difungsikan sebagai Gedung Pameran Seni Rupa. (kini Gedung Pameran Temporer Galeri Nasional Indonesia). Di tempat ini para peserta sempat berfoto-foto dan masuk ke ruangan sebentar untuk melihat-lihat. Oleh arena keterbatasan waktu jelajah, maka perjalanan dilanjutkan ke Gereja Immanuel.
Gereja Immanuel
Gereja ini dibangun antara tahun 1835-1839, dengan peletakan batu pertama pada tanggal 24 Agustus 1835 dan peresmiannya 24 Agustus 1839 (tanggal 24 Agustus merupakan acuan untuk menghormati Raja Belanda Willem I Van Oranye yang lahir pada tanggal 24 Agustus). Gereja ini adalah Gereja Protestan (Lutherian). Nama Emmanuel untuk gereja ini diberikan sejak tahun 1948, sebelumnya bernama Willemskerk, (gereja Raja Willem I Van Oranye). Ciri khas arsitektur Eropa terlihat sangat kental, lengkap dengan adanya pohon – pohon cemara di sepanjang kiri dan kanan jalan menuju Gereja, sehingga sangat bagus untuk tempat berfoto. Oleh karena saat itu adalah hari Minggu, dan sedang ada kebaktian, maka peserta tidak dapat masuk ke dalam. Lepas dari gereja Immanuel, peserta pun menuju gedung Departemen Luar Negeri.
Lapangan Banteng – Departemen Keuangan - Gereja Katedral - Masjid Istiqlal
Kawasan Lapangan Banteng mempunyai struktur tata ruang kota yang teratur (komposisi dan massa bangunan), jalur pejalan kaki nyaman, hamparan karpet rumput hijau dan pepohonan besar yang teduh; konsep tata ruang kota yang sudah lama ditinggalkan perancang kota di Indonesia. Dari struktur tata ruangnya bisa dilihat bahwa kawasan Lapangan Banteng merupakan pusat pemerintahan di zaman Batavia, yang dikelilingi bangunan-bangunan lainnya.
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ)
Gedung ini dibangun oleh Sir Thomas Raffles pada 1811-1816, yang dilengkapi dengan lampu-lampu gas disepanjang kiri kanan jalan (1963). Pada malam peresmiannya dipentaskan drama Othello karya Shakespeare, penulis kisah asmara Romeo and Juliet.
Tepat di depan GKJ ini, matahari mulai tinggi sehingga sebagian peserta mulai kelelahan dan memutuskan untuk kembali ke hotel. Meski demikian, mereka sempat mengambil gambar di depan GKJ sambil menunggu mobil jemputan datang. Sebagian peserta lain tetap melanjutkan perjalanan ke tempat kunjungan terakhir yaitu Pasar Baru atau sekarang dieja Passer Baroe.
Passer Baroe
Pasar ini dibangun oleh Daendels pada tahun 1821, setelah adanya pasar Senen dan Pasar Tanah Abang (1873) yang didirikan oleh tuan tanah Justinus Vinck. Pada masa itu Passer Baroe adalah pasar untuk kalangan elit Batavia. Namun, sejak abad ke-19 wilayah ini juga dihuni oleh para pedagang dari Tionghoa. Antara lain yang hingga kini masih bertahan adalah Toko Lie le Seng (menjual peralatan alat tulis), Toko Sin Lie Seng (menjual sepatu), Toko Jamu nyonya Meneer, dan toko Kompak yang merupakan bekas kediaman Major Tionghoa Tio Tek Ho. Terdapat pula Vihara Sin Tek Bio di sini. Selanjutnya kawasan ini jadi tempat pembauran antara pedagang India, Tionghoa, Arab, dan Betawi karena sejak tahun 1825 pasar ini disewakan ke masyarakat dengan sistem sewa los (per ruang).
Kelompok 1 dan 2 tiba bersamaan di Pasar Baru tepat pukul 10.30 WIB dan disambut dengan berbagai makanan ringan dan minuman. Selanjutnya kami bercengkrama sambil menikmati suasana Pasar Baru. Kelompok 3 baru tiba di Pasar Baru pada pukul 11.30. Sebuah seremoni kecil menjadi penutup acara ini; dilakukan oleh Ibu Vivi dari BPPI. Sesi foto bersama sebagai memori kegiatan jelajah kali ini mengakhiri acara di Minggu siang itu.
|