Jaringan Pegiat Peta Hijau Indonesia

Menilik Sejarah Kampung Bumen Melalui Peta PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Monika   
Selasa, 24 November 2009 16:27

Kegiatan Yayasan Pondok Rakyat di Kotagede

Diskusi Sejarah Kampung Bumen

Pada hari Minggu, 8 November 2009 Acara Srawung Kampung di Kotagede, Yogyakarta menggelar dua kegiatan. Kedua acara tersebut ialah ”Workshop Mengenal Lingkungan Hidup” yang diselenggarakan bersama Komunitas Peta Hijau Yogyakarta dan ”Pustaka Tiban” yang menggandeng komunitas 1001 Buku, ICBC, PKBI,  BIBLIO, Mobil Perpustakaan Keliling Galang Press, dan Mobil Perpustakaan Keliling USC Satunama.

Pukul sembilan pagi panitia menyiapkan pendapa yang akan dijadikan tempat workshop dan lapangan yang akan menjadi area Pustaka Tiban. Saat itu pula panitia mengingatkan warga lewat pengeras suara di masjid untuk menghadiri acara Srawung Kampung hari ini. Setelahnya, empat orang anggota Komunitas Peta Hijau Yogyakarta datang. Mereka adalah Lieke, Sita, Inu, dan Vinsen.

Sembari menunggu acara yang belum dimulai, kami sempat berbincang mengenai Komunitas Peta Hijau. Jaringan internasional Peta Hijau terbentuk mulai tahun 1995 di Amerika Serikat. Kini, Komunitas Peta Hijau alias Green Map sudah dibentuk di 55 negara, termasuk Indonesia. Cara kerja yang digunakan Peta Hijau adalah menandai peta wilayah dengan melibatkan penduduk asli dari wilayah yang akan ditandai (diberi ikon). Tanda-tanda (ikon) yang digunakan berdasar pada tiga aspek utama, yaitu: kehidupan berkelanjutan (sustainable living), alam (nature), serta budaya dan sosial (culture & society).

Setelah berbincang sejenak mengenai ide, tujuan, dan metode yang digunakan, kami menyadari bahwa peserta workshop sudah terkumpul sebelas orang. Mereka adalah warga Bumen, Kotagede yang prioritas bapak-bapak. Ada seorang ibu yang juga mengikuti workshop ini.

Di awal workshop, Sita bercerita tentang Komunitas Peta Hijau Yogyakarta dan memperlihatkan portofolio berupa semacam katalog wilayah Kotagede dengan deskripsi potensi tiga aspek di atas. ”Peta ini dibuat tahun 2004, memang mestinya ada pembuatan ulang karena tentu sudah banyak yang berubah.”, ujarnya.

Sepuluh peserta kemudian terbagi menjadi dua kelompok. Peserta yang sudah terbagi ini kemudian dihadapkan pada peta buta Kampung Bumen yang dibuat di tahun 2009 oleh Maria Adriani, seorang relawan Yayasan Pondok Rakyat (YPR) yang telah menuntaskan studi strata 2 di program studi desain arsitektur. Kelompok pertama menandai peta bersama Lieke dan Inu. Kelompok kedua difasilitasi Sita dan Vincent. Setelah kurang lebih dua jam kami berdiskusi, setiap kelompok mempresentasikan tanda yang ditemukan lewat diskusi tadi.

Kelompok pertama lebih mengarah pada sejarah Kampung Bumen tentang pahitnya kondisi setelah tahun 1965 dan bagaimana Bumen berkembang setelahnya. Kelompok kedua, yang terdiri dari generasi yang lebih muda dari kelompok pertama, cenderung menandai peta berdasarkan kondisi fisik yang terlihat, misalnya tanda yang diberikan pada rumah-rumah penduduk yang memproduksi makanan khas Bumen Kembang Waru.

Kegiatan yang berlangsung selama lebih kurang tiga jam ini menunjukkan banyaknya cerita dan potensi yang ada di Kampung Bumen. Beberapa peserta sempat bernostalgia dengan cerita berubahnya penataan wilayah kampung sejak dulu sampai sekarang. Begitulah kami menemukan sejarah yang diceritakan lewat menandai sebuah peta. Mungkin sebaiknya ini dituliskan bersama peta yang dapat menunjukkan cerita-cerita itu pernah ada di Bumen.

Diskusi kelompok bersama YPR dan Peta Hijau Yogyakarta


Fasilitator Peta Hijau Yogyakarta:
Kristanti Wisnu Aji Wardani (Inu)
Maria Carmelia (Lieke)
Sita Sari Trikusumawardhani
Vinsensius Ngesti W.

* penulis adalah relawan untuk Yayasan Pondok Rakyat
** Tulisan dan foto yang termuat ini telah terunggah di situs resmi Yayasan Pondok Rakyat dengan judul Menandai Peta, Menilik Sejarah Kampung Bumen.



blog comments powered by Disqus
LAST_UPDATED2
 

GreenMap.Org


Pemeta Hijau

You are here  : Home Peta Hijau di Indonesia Yogyakarta Menilik Sejarah Kampung Bumen Melalui Peta