|
Satu Tapak ke Tahap Kedua |
|
|
|
|
Borobudur
|
|
Ditulis oleh Elanto Wijoyono
|
|
Minggu, 14 Juni 2009 00:30 |
|
Borobudur dalam Peta Hijau
Dua anak muda mengawali acara dengan presentasi dan diskusi mengenai Borobudur yang sudah banyak diulas beragam pakar sedunia. Borobudur sebagai monumen Buddhis tunggal terbesar jelas memukau banyak pihak. Namun, ada sudut pandang berbeda yang dibawa keduanya, ketika mengajak hadirin untuk lebih dalam menjenguk saujana yang hidup disekelilingnya. Bukan untuk melupakan Candi Borobudur, tetapi justru untuk mengajak mengingat kembali bahwa ada desa bernama Desa Borobudur, yang sangat mungkin setua usianya dengan kawasan itu yang saat ini justru makin terlupakan. |
|
Selanjutnya...
|
|
Peluncuran Peta Hijau Mandala Borobudur |
|
|
|
|
Borobudur
|
|
Ditulis oleh Elanto Wijoyono
|
|
Senin, 01 Juni 2009 22:30 |
|
Tahap I – Peta Hijau Desa Borobudur dan Peta Hijau Taman Wisata Candi Borobudur
Ketika sebuah pertanyaan disodorkan kepada Anda; di manakah letak Borobudur?
Lazim dijelaskan bahwa Borobudur terletak di Jawa Tengah, atau lebih tepatnya di Kabupaten Magelang Jawa Tengah dengan Candi Borobudur sebagai penanda utamanya. Kadang, Kecamatan Borobudur disebutkan pula sebagai penunjuk tempat. Mungkid sering pula disebut sebagai wilayah tempat Borobudur berada tanpa menyadari kesalahannya. Namun, tak banyak yang menyebutkan Desa Borobudur sebagai tempat monumen tunggal Buddha terbesar di dunia itu berada. Bahkan, dapat dipastikan tak banyak orang yang tahu bahwa ada desa bernama Desa Borobudur itu sendiri.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Yogyakarta
|
|
Ditulis oleh Elanto Wijoyono
|
|
Kamis, 16 April 2009 03:44 |
|
Pendampingan Studi Ruang Publik Dua Seniman Belanda
Siapa sangka di kampung yang dahulu dipandang sebelah mata oleh penduduk Kota Yogyakarta, saat ini sudah mampu mengelola kelompok usaha tanaman hias "Puring 1000". Adalah Haryono, seorang ketua Rukun Warga (RW) di kampung Ledok Tukangan, Yogyakarta yang mendorong warga kampungnya, yang rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan, untuk mengoptimalkan dukungan program dari Pemerintah Kota Yogyakarta dengan berbagai program kegiatan yang ramah lingkungan dan menghasilkan uang. Belum setahun program itu berjalan, kampung di tepi Sungai Code itu beranjak hijau. Ruang sempit di sepanjang jalan setapak pun tak luput dimanfaatkan sebagai taman publik. Inisiatif memperbaiki kualitas lingkungan hidup perkampungan yang padat juga dilakukan oleh warga Kampung Ledok Jagalan, Yogyakarta, yang juga terletak di bantaran Sungai Code. Pengalaman banjir bandang akibat terjangan lahar dingin Gunungapi Merapi pada tahun 1984 yang melanda pula permukiman di sepanjang bantaran membuat warga sangat menyambut baik datangnya program pembangunan talud pada tahun 1992-1993. Menariknya, program pemerintah kotamadya kala itu dimandori oleh warga kampung itu sendiri, seorang Ketua RW yang asli berasal dari Sulawesi Selatan. Sebuah prasasti kecil saat ini terpampang di tepi sungai, dekat kamar mandi umum, yang menandai peresmian talud oleh Walikota Kotamadya Yogyakarta R. Widagdo pada tahun 1993. Masih baik terawat. Di ujung jembatan, sudah berdiri sebuah rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang baru saja dibangun oleh pemerintah kota saat ini. Balai RW I kampung yang dulu berada di lahan itu akan dibangun di dalam gedung itu nantinya.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Membuka Mata Mahasiswa Lewat Peta Hijau |
|
|
|
|
Jakarta
|
|
Ditulis oleh Elisa Sutanudjaja
|
|
Minggu, 12 April 2009 01:19 |
|
Gerutu dan gumaman bermunculan ketika saya mengumumkan tugas kedua untuk mata kuliah Pembangunan Berkelanjutan dan Lingkungan Perkotaan. Mungkin ini bukan perasaan kolektif 31 mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Pelita Harapan, tapi setidaknya itu yang dirasakan oleh Carolina, mahasiswa semester 6, yang mengaku shock ada tugas baru yang harus dikumpulkan menjelang ujian akhir semester. Ketika saya tanyakan kepada mahasiswa apakah mereka pernah mendengar tentang peta hijau atau green map, tak ada satupun yang menjawab. Karena kebisuan dan ketidaktahuan mereka, maka saya menjadi semakin yakin, semangat dan merasa wajib untuk ‘membebani’ mahasiswa dengan tugas peta hijau.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ragam
|
|
Ditulis oleh Shanty Syahril
|
|
Rabu, 25 Maret 2009 23:31 |
Omong-omong buat Peta Hijau itu bukan gaweannya orang gede saja, anak-anak juga bisa loh. Bingung...? Emang Peta Hijau apaan sih? Peta Hijau atau Green Map itu adalah peta yang dibuat oleh komunitas lokal yang memetakan potensi alam dan budaya suatu kawasan. Para pegiat Peta Hijau ini bersinergi dalam jaringan Green Map System (GMS). Terus, untuk apa sih membuat Peta Hijau? Tujuannya untuk membantu masyarakat melihat, menilai, menghubungkan, serta peduli terhadap lingkungan tempat mereka berada. Jadi, kalau anak-anak terlibat diproses pembuatan Peta Hijau, artinya dia belajar sejak dini untuk peduli dengan lingkungan sekitarnya. |
|
Selanjutnya...
|
|
Dari Waktu ke Waktu untuk Borobudur |
|
|
|
|
Borobudur
|
|
Ditulis oleh Elanto Wijoyono
|
|
Sabtu, 21 Maret 2009 20:12 |
|
Pembuatan Peta Hijau Desa Memasuki Tahap Akhir
Akhir pekan menjadi penanda waktu yang rutin bagi tim Peta Hijau Desa Borobudur untuk berkumpul, memetakan kawasan desa yang mengelilingi monumen tunggal Buddhisme terbesar di dunia itu. Melewatkan dua hari, setiap Sabtu dan Minggu, tim dari Yogyakarta bersama dengan tim Desa Borobudur meluangkan diri untuk mengerjakan segala tahap untuk mewujudkan Peta Hijau Desa Borobudur yang diidamkan sejak lama.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
|
Halaman 5 dari 11 |